Jumat, 13 Juli 2012

PSIM: Jelang Play Off, Aksi Saling Lempar Kritik Marak

JOGJA - Pasca kegagalan PSIM pada babak semifinal Divisi Utama Liga Indonesia lalu sehingga membuat tim yang bermarkas di Baciro Yogyakarta tersebut harus menempuh jalan play off demi lolos ke Indonesia Super League (ISL), banyak pihak yang merasa kecewa dan saling melempar kritik, baik dari pihak pelatih maupun dari manajemen.

Sebut saja pelatih PSIM Hanafing, yang mengaku kecewa dengan ulah beberapa pemainnya yang dinilainya tidak professional dan tidak memiliki tanggung jawab. Ia menyebutkan, beberapa nama seperti Reinhard Rumeikewi yang sempat mendapat sanksi berupa pencoretan namanya dari daftar line up di babak 8 besar lalu, dan juga M.Romli yang dinilainya telah membohongi pelatih terkait kesiapannya menghadapi Persepam Madura United di babak perebutan juara III lalu.

M Romli dinilainya telah berbohong lantaran saat ditanya mengenai kesiapan, pemain bernomor punggung 20 itu mengaku siap, padahal nyatanya secara fisik sama sekali tidak siap karena conditioning yang tidak dilakukannya sebelum pertandingan. ”Seharusnya, sebagai pemain muda, mereka itu bisa bertanggung jawab atas profesinya sebagai pemain sepakbola. Jangan seenaknya sendiri,” tegasnya.

Selain itu, ia juga mengaku kecewa dengan tidak hadirnya beberapa pemain ketika Nova Zaenal dkk berlaga di babak perebutan juara III lalu. ”Meski itu urusan pribadi mereka, tapi seharusnya mereka ikut datang mendukung kawan-kawannya yang lain,” keluhnya.

Oleh sebab itu, setelah pertandingan play off, pihaknya akan segera menyusun rapor pemain selama satu musim kompetisi yang kemudian akan diserahkannya kepada manajemen. ”Rapor itu disusun berdasar pada tingkat kedisiplinan dan kesungguhannya sebagai pemain PSIM. Selanjutnya, semua terserah pada manajemen,” ujarnya.

Meski demikian, ia juga tidak berani sepenuhnya menyalahkan para pemainnya jika dalam 2 partai terakhir PSIM tak pernah menang. Pasalnya, pihak manajemen pun ternyata tidak menepati janjinya untuk memenuhi tunggakan hutang gaji pemain yang semula dijanjikan akan dibayarkan jika PSIM masuk 4 besar. ”Tapi, itu bukan wewenang saya untuk protes. Sepenuhnya itu wewenang manajemen,” tegasnya.

Sebaliknya, Direktur Teknis PSIM Dwi Irianto, justru mengaku kecewa dengan absennya Hanafing pasca pertandingan terakhir PSIM di babak perebutan juara III Minggu (8/7/2012) lalu lantaran harus menjadi instruktur pada kursus kepelatihan yang digelar di Madiun. ”Seharusnya di saat-saat seperti ini, sebagai pelatih kepala, dia [Hanafing] kan mendampingi anak asuhnya. Pertandingan play off 17 Juli mendatang itu sangat penting,” tegasnya.

Keluhan dari pria yang akrab disapa Mbah Putih itu ternyata senada dengan yang diutarakan oleh kapten PSIM Nova Zaenal. Pemain bernomor punggung 7 tersebut mengatakan, dengan kondisi tim yang baru saja kalah di partai penting, seharusnya para pemain terus didampingi dan dimotivasi oleh pelatih kepala. ”Tapi mana, sekembalinya kami dari Solo, tak ada pendampingan dari pelatih. Padahal kami sangat membutuhkannya,” keluhnya.

Sumber : Lihat Disini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar