Sabtu, 11 Agustus 2012

Pemain PSIM Bingung

JOGJA—Pemain PSIM masih tetap menunggu kabar dari manajemen PSIM terkait sejumlah masalah yang menimpa klub kebanggaan warga Jogja tersebut.

Selain masalah tunggakan gaji, tudingan suap ke pemain juga menjadi ganjalan pemain. Sayang, hingga kini pemain PSIM belum mendapatkan penyelesaian mengenai masalah tersebut.

Upaya yang dilakukan sejumlah pemain dengan menghubungi manajemen tetap saja belum membuahkan hasil. Bahkan saat ini setelah isu suap bergulir manajemen PSIM cenderung tertutup.

Pemain PSIM Nova Zaenal mengaku heran dengan perubahan sikap dari manajemen yang kini cenderung tertutup tersebut.

Pasalnya selama ini, ia mengaku betah di PSIM lantaran kondisi kekeluargaan di tubuh PSIM yang cukup kuat.

Akan tetapi, setelah berakhirnya musim kompetisi Juli lalu, tepatnya setelah para pemain mulai jengah dengan janji-janji manajemen terhadap tunggakan gaji pemain, pihak manajemen satu per satu mulai menghilang dan sulit ditemui. “Kalau pun bisa ditemui, tetap tidak ada solusi,” ucapnya Kamis (9/8).

Padahal ketika kondisi tim tengah karut marut seperti ini, ia berharap kedekatan pemain dan manajemen bisa tetap terjaga. “Bukan malah sembunyi seperti ini,” tambahnya.

Ia mengaku tidak lagi mendapatkan respons sama sekali ketika dirinya menghubungi Ajiek untuk mengajaknya bertemu dan membahas soal tuduhannya terkait suap pemain PSIM. “Mana, sampai sekarang belum ada balasan dari dia,” ujarnya kesal.

Begitu pula dengan Dulsan Lestaluhu. Bek sayap PSIM asal Ambon ini mengaku hingga kini masih menunggu kabar kejelasann dari manajemen.

Akan tetapi tak ada satupun kabar baik yang dia terima dari manajemen. “Tak ada satupun kabar dari Jogja [manajemen],” tegasnya.

Padahal, ia mengaku kini tengah membutuhkan uang untuk persiapan lebaran, namun tak kunjung mendapatkan kabar.

Terpisah, Direktur Teknik PSIM Dwi Irianto sebelumnya juga mengakui bahwa memang terjadi ketidakselarasan di kalangan manajemen.

Ia pun menegaskan, dirinya tidak memiliki kewenangan untuk memberikan keterangan apapun terkait persoalan manajemen PSIM. “Ini bukan wewenang saya, karena sesuai kesepakatan dulu, Ajiek lah yang ditunjuk sebagai media officer,” ujarnya.

Terkait persoalan tunggakan gaji, dengan tegas pula ia mengatakan akan memberikan solusi kepada para pemain. Solusi itu adalah pembayaran gaji pemain hingga bulan Juli dimana kompetisi berakhir ditambah gaji bulan Agustus.”Kalau pemain tetap tidak mau, ya terserah. Saya sudah angkat tangan,” tegasnya.

Sumber : Lihat Disini

Mbah Putih : Manajemen PSIM Belum Peroleh Dana

YOGYA - Manajemen PSIM belum akan melakukan pembicaraan dengan para pemain, terkait pembayaran hak-hak mereka. Alasannya, sampai sekarang pengelola tim kebanggaan publik Yogya itu belum memperoleh dana talangan untuk menutup semua tanggungan termasuk gaji pemain.

Pada saatnya nanti, manajemen akan melakukan komunikasi dan pembicaraan dengan para pemain yang telah menanti kepastian pemberian bayaran mereka yang tertunggak selama beberapa bulan. Direktur Teknik, Dwi Irianto, menyatakan begitu mendapatkan dana maka akan melakukan pembicaraan dengan Nova Zaenal cs.

Pembicaraan, tersebut, untuk menegosiasi besarnya hak pemain yang bisa diberikan manajemen mengingat banyaknya tanggungan yang harus dibayarkan oleh tim.

"Tergantung jumlah uangnya yang didapat, jika bisa untuk membayar semuanya langsung kami berikan tetapi kalau tidak akan dibicarakan dahulu dengan para pemain," tutur Mbah Putih, sapaan akrab Dwi.

Sumber : Lihat Disini

Kamis, 09 Agustus 2012

TUDUHAN SUAP PSIM: Gresik United Siap Tuntut Balik

GRESIK—Serangan balik kini dialamatkan kepada manajemen PSIM, terkait dugaan suap sejumlah pemain dalam laga play off Divisi Utama beberapa waktu lalu.

Setelah sejumlah pemain mengancam akan membawa masalah tersebut ke proses hukum jika manajemen tidak bisa membuktikan, kini kubu Gresik United bakal melangkah serupa. Kubu tim asal Gresik perlu menempuh cara itu karena secara tidak langsung klub yang berhasil bertahan di Indonesia Super League itu disebut-sebut dalam kasus tersebut.

Gresik United membantah keras melakukan upaya tidak jujur itu. Bahkan pihak tim asal Gresik itu siap mengajukan tuntutan balik jika seandainya pihak PSIM tak mampu membuktikan kebenaran atas tuduhan itu.

Manajer Persegres Thoriq Majjidanor menegaskan, pihaknya sama sekali tak melakukan perbuatan seperti yang dituduhkan oleh pihak manajemen PSIM tersebut.

Ia mengaku tak pernah terpikirkan untuk mengeluarkan uang sepeser pun guna keperluan suap menyuap. Ia mengaku masih percaya dengan kekuatan dan kualitas timnya sendiri.

Baginya, sama sekali tak ada gunanya ia mengeluarkan uang untuk menyuap pemain PSIM. Pasalnya, menurut manajer muda ini, secara teknis dan di atas kertas, timnya sudah unggul dari PSIM. Di dalam lapangan pun, diakuinya, kualitas permainan Persegres berada di atas PSIM.

”Kalau sudah seperti itu, buat apa kami melakukan suap kepada pemain PSIM,” bantahnya saat dikonfirmasi melalui telepon, Minggu (5/8).

Oleh sebab itu, ia berharap kepada manajemen PSIM untuk segera bisa membuktikan kebenaran atas tuduhannya itu. ”Kalau tidak, kami bisa lho tuntut balik,” ancam manajer yang akrab disapa Zidan ini.

Begitu juga dengan Bupati Gresik, sekaligus General Manager Persegres Sambari, Minggu (5/8). Meski tak banyak berkomentar, namun ia benar-benar membantah jika pihaknya melakukan suap tersebut.

Menurutnya, dengan kondisi keuangan Persegres yang memang tidak begitu menggembirakan terutama sejak terbitnya Permendagri No.22/2011 yang melarang pemakaian APBD untuk sepak bola. ”Jadi kecil kemungkinan kalau kami melakukan penyuapan itu,” ucapnya.

Sedangkan pelatih Persegres Djoko Susilo menegaskan, kekalahan PSIM atas timnya saat pertandingan play off lalu adalah hal yang wajar. Pasalnya, ketika itu, PSIM sama sekali tidak diperkuat oleh ketiga pemain asingnya. ”Kalau tiga pemain asing itu main, sudah berbeda ceritanya. Gitu kok malah nuduh main suap,” ucapnya.

Senada, pihak Persita Tangerang yang namanya juga masuk dalam tuduhan manajemen PSIM pun melakukan bantahan keras.

Manajer Persita Tangerang Ahmad Zulfikar Iskandar mengakui, sejak awal kompetisi pihaknya telah mendeklarasikan tentang sepak bola bersih, baik bersih secara internal, maupun eksternal. ”Itulah, saya kaget sekali ketika kami dituduh menyuap,” tegasnya.

Dengan lantang ia berseru, dengan kualitas permainan Persita, ia yakin, timnya akan bisa dengan mudah melenggang hingga ISL.

Memang, terbukti, selama kompetisi Divisi Utama, baik pada putaran pertama maupun putaran kedua, Persita Tangerang hanya dua kali saja menderita kekalahan. ”Kalah dari Barito di babak semifinal, bagi kami adalah wajar. Terus menang dari PSIM, itu pun wajar, sejak penyisihan pun, kami sudah selalu mengungguli mereka kan,” tegasnya.

Ia pun berharap manajemen PSIM untuk segera membuktikan kebenaran tuduhan itu. Hal itu lantaran ia tidak menginginkan citra Persita Tangerang menjadi tercoreng karenanya. “Karena selama ini kami sudah berupaya melakukan pembinaan pemain dari usia dini dengan dana seadanya. Sekarang malah dituduh seperti ini,” pungkasnya.

Terpisah, pelatih PSIM Hanafing menegaskan, hingga kini, ia masih berpikiran positif mengenai pemainnya. ”Karena saya tahu betul kondisi mereka. Tapi saya pun sudah mengingatkan kepada mereka, kalau memang benar terlibat, sanksi mereka sangat tegas. Makanya, manajemen harus segera membuktikannya,” ucapnya.

Melalui hasil pembuktian manajemen itulah, jika pemainnya benar-benar terlibat, dirinya yang juga sebagai salah satu pelatih berlisensi A AFC sekaligus bagian dari bidang Diklat PSSI siap mem-blacklist pemain yang bersangkutan. ”Saya bisa kontak ke pelatih lain agar tidak memakai pemain itu,” ucapnya.

Sebelumnya, dari pihak PSIM sendiri, Media Officer PSIM Ajiek Tarmidzi, ketika dikonfirmasi, masih juga belum memberikan perkembangan apapun terhadap hasil investigasi yang dilakukannya.

Meski begitu, menanggapi bantahan dari pihak-pihak tersebut, ia hanya menjawabnya dingin.”Lihat saja, nanti pasti akan kami buka semuanya,” tegasnya.

Sumber : Lihat Disini

DUGAAN SUAP PEMAIN: Suporter PSIM Khawatir

JOGJA—Suporter PSIM cemas adanya efek negatif yang akan dialami Laskar Mataram terkait ancaman tuntutan  Gresik United (GU) dan Persita Tangerang. Manajemen PSIM sebelumnya menuding kedua klub tersebut terlibat dalam tindak penyuapan pemain.

Presiden DPP Brajamusti, Eko Satryo Pringgodani mengaku khawatir jika sampai persoalan suap ini diinvestigasi langsung PT Liga Indonesia (LI), besar kemungkinan PSIM akan terkena sanksi. Pasalnya, bagaimanapun nantinya akan muncul keterlibatan orang dalam.

Oleh sebab itulah, ia berharap manajemen segera menyelesaikan persoalan ini secara internal terlebih dahulu. “Sebelum persoalan ini semakin meluas,” ucapnya, Selasa (7/8).

Itulah alasan pihaknya merasa kecewa dengan sikap manajemen yang hingga kini terkesan tidak sigap dalam merespons adanya persoalan tersebut. “Intinya, kami sekarang hanya menunggu respons dari manajemen saja,” ujarnya.

Seharusnya, kata Eko, Media Officer PSIM Ajiek Tarmidzi selaku orang yang menghembuskan kabar suap tersebut tidak sembrono. Pasalnya bagaimanapun jika kasus ini terungkap PSIM akan terkena sanksi. “Menurut saya itu kan rahasia dapur sendiri. Jadi seharusnya tidak perlu dibeberkan dulu ke publik. Apa dia [Ajiek] tidak berpikir kalau itu hanya akan jadi bumerang saja,” ungkapnya.

Sebaliknya, PJS Ketua The Maident Hari Santosa justru menganggap PT LI memang sudah seharusnya segera menangani kasus ini. “Biar semuanya menjadi terang,” ujarnya.

Hal itu lantaran ia menilai manajemen PSIM cenderung lamban dalam membuktikan kebenaran pernyataan Ajiek tersebut.

Selain itu ia menilai, meski nantinya terbukti, sanksi hanya akan diberikan kepada lima pemain dan manajemen yang terlibat. “Yang terpenting itu kan kasusnya selesai dulu,” tegasnya.

Sedangkan jika memang tidak terbukti, ia pun menanggapi dingin ancaman tuntutan dari pihak GU dan Persita.

Pasalnya, ia menganggap tuduhan itu tidak dilontarkan atas nama manajemen dan instansi, melainkan oleh personal. “Sehingga kalaupun benar-benar dituntut, tidak bisa menuntut PSIM-nya, tapi harusnya yang dituntut itu personal,” paparnya.

Intinya, pihaknya mengaku siap untuk mengawal kasus tersebut meski harus mengerahkan massa The Maident ke Jakarta.

Sebelumnya, Direktur Teknis PSIM Dwi Irianto mengaku akan senantiasa berada di belakang Ajiek jika nantinya ada tuntutan dari beberapa pihak yang merasa dirugikan atas pernyataan suap itu. “Selama Ajiek bertanggung jawab atas apa yang diucapkannya, kami akan selalu berada di belakangnya,” ucapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, beberapa hari lalu Ajiek Tarmidzi sempat melontarkan pernyataan tentang keterlibatan lima pemain PSIM atas kasus suap dengan klub GU dan Persita.

Akibatnya, kedua klub tersebut mengancam untuk menuntut PSIM jika seandainya manajemen PSIM tak berhasil membuktikan kebenaran tuduhan terebut.

Sumber : Lihat Disini

Gaji Tak Jelas, Rimkus Emoh Bermain untuk PSIM Lagi

Lorenzo Rimkuz
JOGJA—Tak kunjung mendapat kejelasan terkait gajinya, pemain asing PSIM asal Belanda Lorenzo Rimkus kini enggan untuk merumput bersama PSIM.

“Selama manajemen PSIM tidak memberi kejelasan, jangan tanya saya tetap berada di Jogja atau tidak,” ujar Lorenzo, Rabu (8/8).

Memang, ketika ditanya mengenai rencananya di musim kompetisi mendatang, ia terlihat tidak respek menjawabnya.

Pemain bernomor punggung 35 tersebut mengaku kecewa dengan sikap manajemen yang terkesan menghindar jika ditanya soal gajinya. “Bayangkan, 3,5 bulan saya belum terima gaji. Padahal saya sudah terlilit banyak utang,” ucapnya.

Ditegaskannya, saat ini dirinya tak berpikir tentang masa depannya, akankah tetap berada di PSIM atau hengkang ke klub lain.

Fokusnya kini hanya pada masalah-masalah utang yang melilitnya tersebut. “Tak ada sama sekali iktikad baik dari manajemen. Terlalu banyak kebohongan,” ucapnya.

Ia berharap, manajemen segera menyelesaikan persoalan gaji tersebut. Pasalnya, sesuai dengan kontraknya, ia baru akan meninggalkan PSIM pada Desember mendatang. “Sudah, jangan urusi saya berada di PSIM atau tidak nantinya. Yang penting sekarang, bagaimana nasib gaji saya ini,” ucapnya.

Terpisah, Ketua Umum PSIM Haryadi Suyuti hanya bisa memberikan jaminan bahwa dirinya tidak akan meninggalkan pemain.

Meski begitu, ia tetap tidak bisa berbuat apa-apa jika manajemen tidak segera melaporkan keuangan klub selama musim kompetisi lalu. “Kalau tidak ada laporannya terus bagaimana,” keluhnya.

Oleh sebab itu, ia mengharapkan manajemen segera menggelar konsolidasi internal guna membahas hal-hal yang terkait dengan tunggakan gaji pemain.

Sumber : Lihat Disini

Pemain PSIM Makin Terdesak Kebutuhan Ekonomi

YOGYA - Pemain PSIM menganggap, manajemen mempersulit mereka dalam menerima hak-hak yang belum diterima selama berbulan-bulan. Para punggawa Laskar Mataram, juga mengaku mendengar manajemen melempar masalah suap, agar terhindar dari kewajibannya membayar gaji pemain.

Beberapa waktu lalu, Direktur Media, Ajiek Tarmidzi, menyatakan ada lima pemain PSIM yang terindikasi suap saat pertandingan semifinal, perebutan juara ke tiga dan play off. Menurut mereka, manajemen hanya mencari-cari masalah agar tanggungan gaji yang belum terbayar tidak diberikan kepada pemain.

Jika memang kabar itu benar, pemain merasa sedih karena perjuangan mereka selama ini, tidak dihargai dan ketika meminta hak-haknya justru dilempar permasalahan yang membuat posisi para punggawa Laskar Mataram semakin sulit. Sementara, kebutuhan selama beberapa bulan terakhir dan menjelang Lebaran sudah semakin mendesak.

Apalagi beberapa pemain, memang menggantungkan hidup dan memenuhi keluarganya dari keahlian mereka mengolah bola di lapangan. Kini mereka hanya, tinggal berharap manajemen terbuka hatinya dan segera memberi kepastian kapan sisa bayaran dapat diberikan.

"Kasihan anak istri kami, mau makan apa kalau tidak dibayar gajinya. Kami selama ini, hanya menggantungkan dari penghasilan sebagai pemain bola," ujar Dulsan Lestaluhu mengiba, mendengar sinyalemen tersebut.

Dari hasil komunikasi antara pemain dan Direktur PT PSIM, Yoyok Setiawan, Jumat (3/8), menyatakan bahwa sebelum Lebaran segera akan diselesaikan.

Sumber : Lihat Disini

Sabtu, 04 Agustus 2012

POLEMIK PSIM: Ketua Umum PSIM Kurang All Out

OGJA—Karut marut kondisi PSIM saat ini menjadi pukulan telak bagi manajemen terutama Ketua Umum PSIM sekaligus Walikota Jogja Haryadi Suyuti.

Sebagai ujung tombak kepengurusan, Haryadi kini menjadi sasaran kritik dari pihak luar. Tak terkecuali dari anggota legislatif Kota Jogja. ”Saya merasa Ketua Umum PSIM kurang all out,” ujar Henry Kuncoroyekti, Ketua DPRD Kota Jogja, Kamis (2/8).

Menurutnya, kepemimpinan Haryadi pada musim kompetisi lalu tidak total. Terbukti, meski secara struktural puncak kepengurusan terletak di tangan Haryadi, namun di awal musim, justru seolah terjadi pemutusan garis koordinasi antara Haryadi dan pengurus yang lain.

Namun, di akhir kompetisi, tepatnya ketika kondisi klub sudah terguncang, manajemen seperti menimpakan tanggung jawab kepada Haryadi sebagai Ketua Umum.

Inilah yang menurutnya bentuk sikap ketidaktotalan Haryadi dalam mengurusi PSIM. Andaikata Haryadi memiliki sikap yang total dan all out, dipastikan kepemimpinannya sebagai Ketua Umum akan berjalan secara semestinya. ”Saya tahu kapabilitas beliau kok,” ucapnya.

Dirinya berharap, untuk musim kompetisi mendatang, Haryadi bisa lebih total dalam menjalankan roda kepengurusan. Selain itu, prinsip keterbukaan, baik antara manajemen maupun dengan pemain mutlak harus segera dibangun kembali. ”Prinsipnya itu komunikasi dan keterbukaan. Jangan sedikit-sedikit langsung berpolemik di media massa,” tegasnya.

Hal senada diungkapkan mantan striker PSIM di era 1986-1989, Melius. Kepada Harian Jogja dirinya mencoba membandingkan PSIM ketika di bawah Haryadi dengan PSIM ketika masih berada di bawah kendali Herry Zudianto. Menurutnya, pembagian kerja dan manajerial jauh lebih tertata ketika manajemen di bawah kendali Herry Zudianto. ”Meski saya tidak tahu persis kondisi yang sekarang, setidaknya, saya melihat, zaman Herry Zudianto dulu, sedikit lebih tertata rapi,” akunya.

Selain itu, sebagai mantan bintang PSIM, ia menilai manajemen yang sekarang ini cenderung kurang berani mengambil pertaruhan untuk memaksimalkan potensi pemain lokal. ”Kalau memang tujuannya sebagai industri sepak bola, ya bukan berarti mengesampingkan kualitas pemain asing atau pemain yang dari luar Jogja dong,” ujar pria yang kini menukangi TNH, klub divisi utama kompetisi Pengcab PSSI Kota Jogja tersebut.

Terpisah, Tri Agus Heryono, mantan penjaga gawang PSIM era 1974-1980 an mengaku prihatin dengan kondisi PSIM saat ini.

Sama dengan Henry Kuncoroyekti, dirinya juga menilai ketidakterbukaan manajemen merupakan satu-satunya alasan terpuruknya PSIM saat ini. ”Andai kata ada keterbukaan sejak awal, pemain akan bisa saling memahami. Saya pernah jadi pemain. Saya tahu bagaimana rasanya jadi pemain,” ucapnya.

Ia menyadari, kondisi antara ketika dia menjadi pemain dengan sekarang memang sudah jauh berbeda. Industri sepak bola yang saat ini mutlak mengarah pada orientasi bisnis dan investasi, memang tak cukup hanya membutuhkan loyalitas dan rasa kebanggaan saja. ”Dukungan finansial mutlak diperlukan. Beda dengan dulu, dengan memakai kostum PSIM saja, kami para pemain sudah merasa bangga,” tegasnya.

Sumber : Lihat Disini