Senin, 30 Juli 2012

POLEMIK PSIM: Yogaya Siap Turun Tangan

JOGJA–Ketidakjelasan status legalitas PT PSIM memunculkan nama Yayasan Olahraga Yogyakarta (Yogaya) untuk kembali menaungi kesebelasan kebanggaan warga Jogja tersebut.

Saat kepemimpinan Walikota Herry Zuhdianto, yayasan tersebut menjadi penaung atas cabang olahraga (cabor) tingkat Kota Jogja yang telah berstatus profesional, salah satunya adalah sepak bola, dalam hal ini adalah PSIM.

Ketika itu, keuangan PSIM memang masih menjadi tanggungan dari pemerintah dengan Yogaya sebagai yayasan penanggung legalitasnya. ”Ketika itu, sekitar tahun 2010, kami mendapatkan dana dari APBD Kota Jogja sebesar kurang lebih Rp25 juta yang kami pakai untuk operasional dua cabor, voli dan sepak bola [PSIM],” ucap Tri Djoko Susanto, mantan Ketua Yogaya, Minggu (29/7).

Akan tetapi, sejak 2011 lalu, tepatnya ketika PSIM memutuskan untuk membentuk sebuah perseroan terbatas (PT), sejak saat itulah, Laskar Mataram terpisah dari Yogaya.

Keputusan untuk mendirikan sebuah PT, dinilainya sebagai upaya untuk membawa PSIM ke arah industri. ”Terlebih dengan masuknya PT.Nirwana Persada Indonesia [PT.NPI],” tambahnya.

Namun, pada kenyataannya, keberadaan PT itu pun tak banyak membantu PSIM mengarah ke dunia industri sepak bola. Bahkan, parahnya, dari manajemen lainnya pun menyangsikan legaitas dari PT itu sendiri lantaran mereka mengaku tidak menerima salinan legalitas.

Oleh sebab itu, jika di musim kompetisi mendatang PSIM mengharapkan Yogaya kembali turun tangan, bagi Tri hal itu adalah sebuah kemunduran. ”Karena bagaimanapun, dari awal saya nilai sudah komitmen untuk membawa PSIM ke arah industri sepak bola. Sedangkan kami kan yayasan, orientasinya bukan profit,” paparnya.

Terpisah, Sekretaris Yogaya Sukamto, ketika dikonfirmasi justru tak dapat menanggapi apapun. Pria yang juga merupakan Kepala Kesbangpora Kota Jogja itu hanya bisa mengatakan, hal itu masih akan dibahasnya bersama Ketua Umum PSIM saat ini, Haryadi Suyuti. ”Ini adalah perkara penting. Saya harus konsultasi dengan beliau [Haryadi Suyuti],” ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, wacana munculnya nama Yogaya memang diindikasikan dari ketidakjelasan status PT PSIM. Media Officer PSIM Ajiek Tarmidzi, ketika dikonfirmasi memang mengaku belum menerima salinan apapun terkait legalitas PT tersebut.”Tidak, sampai sekarang ini, saya dan manajemen yang lain belum tahu apapun soal kejelasan PT itu,” tegasnya.

Sumber : Lihat Disini

Pernikahan Tertunda, Gara-gara Gaji Tak Kunjung Cair

YOGYA - Rencana pernikahan Pemain PSIM Tulus Saptianto, pada akhir tahun ini terganggu lantaran gajinya selama empat setengah bulan ke belakang belum diberikan oleh manajemen. Persiapan yang sudah dilakukannya, menjadi tersendat akibat kondisi keuangannya yang sedikit terganggu.

Ia berharap, manajemen segera memberikan hak-haknya yang belum terbayarkan agar rencana pernikahannya bersama sang kekasih hatinya dapat berjalan dengan lancar. Selama ini, ia hanya diminta untuk bersabar menunggu pencairan bayarannya.

"Tidak tahu kalau tidak lancar seperti ini, belum ada kabar juga dari manajemen kapan akan diberikan hak kami. Mereka hanya meminta kami untuk bersabar," jelas Tulus, Minggu (29/7/2012).

Ia, bersama dengan rekan-rekannya sesama punggawa Laskar Mataram berencana untuk mendatangi mess dan menagih hak kepada manajemen. Rencananya, Senin (30/7) atau Selasa (31/7) mereka akan kembali menanyakan hak-haknya.

Kapten tim PSIM, Nova Zaenal, akan mendatangi mess pada Senin atau Selasa untuk menanyakan kepastian sisa bayarannya. Ia akan mengkoordinir, rekan-rekannya agar tidak terkesan datang satu per satu.

Sumber : Lihat Disini

Sabtu, 28 Juli 2012

Lorenzo Tak Tahu Nasib Selanjutnya

YOGYA -  Meski mengaku nyaman bermain bersama PSIM selama satu musim, Lorenzo Rimkus, Kristian Adelmund, dan Emile Linkers, tak bisa menentukan nasib mereka musim depan. Ketiganya pun masih enggan memikirkannya saat ini.

Gelandang serang, Lorenzo Rimkus, secara pribadi menuturkan dirinya mulai mencintai Yogya dan PSIM. Namun konflik internal di tubuh manajemen Laskar Mataram, membuatnya harus berpikir ulang untuk kembali ke Yogya. “Terus terang saya memang senang bermain di sini, tapi saya tidak tahu apakah musim depan masih bermain di sini lagi atau tidak,” katanya.

Hal senada diucapkan Emile Linkers. Bomber andalan Laskar Mataram tersebut menilai sebenarnya PSIM merupakan tim bagus dengan materi pemain lokal yang sangat potensial.

Sayangnya, menurut Linkers, hal itu seringkali terganjal dengan beberapa permasalahan internal manajemen, seperti pembayaran gaji dan bonus. Ia pun mengaku tak keberatan apabila masih dipertahankan dan diinginkan untuk berseragam biru khas PSIM. “Asalkan sistem manajemen bisa lebih baik, saya juga senang kalau bisa bermain lagi di PSIM,” tandas Linkers.

Sumber : Lihat Disini

Trio Belanda Nikmati Pengalaman Berkostum PSIM

YOGYA -  SATU musim berada di Yogyakarta, membawa kesan dan pengalaman tersendiri bagi trio Belanda PSIM. Meski  baru kali pertama merasakan atmosfer kompetisi Liga Indonesia, Lorenzo Rimkus, Emile Linkers, dan Kristian Adelmund tak butuh waktu lama untuk beradaptasi.

Didatangkan dari Negeri Kincir Angin, awal musim kompetisi lalu, ketiganya langsung menjadi idola publik sepak bola Yogya, khususnya suporter setia PSIM. Hal itu tak lepas dari teknik dan kemampuan asah bola di atas rata-rata yang dimiliki trio Belanda, yang menempati tiga posisi berbeda di klub Laskar Mataram.

Rimkus, Linkers, dan Adelmund, secara pribadi mengaku antusias bisa bermain bersama PSIM sekaligus merasakan sepak bola Indonesia. Ketiganya pun memiliki pengalaman yang beragam selama satu tahun berdomisili di Kota Gudeg.

Lorenzo Rimkus, misalnya, yang sangat terkesan dengan fanatisme suporter PSIM. Secara terus terang ia mengatakan dirinya sempat terkejut saat kali pertama bermain bersama Nova Zaenal cs.

“Pertama kali masuk stadion, saya kaget dengan banyaknya jumlah suporter yang datang dan mendukung kami di stadion. Sungguh pemandangan yang luar biasa,” terangnya, beberapa waktu lalu.

Pemilik nomor punggung 35 itu berujar dirinya tak pernah membayangkan sebelumnya antusiasme suporter sedemikian besar. Dukungan, yel-yel, serta nyanyian yang dinyanyikan para suporter saat mendukung PSIM disebutnya sebagai sesuatu yang istimewa. “Mereka (suporter) sangat kreatif membuat gerakan, nyanyian dan digabungkan dengan alat musik, benar-benar menarik dan saya memang terkesan,” imbuhnya.

Namun yang paling diingat oleh Rimkus adalah ketika tim PSIM gagal menaklukkan Persita Tangerang pada babak semifinal di Stadion Manahan Solo, beberapa waktu lalu. Ia terkesan saat melihat para suporter PSIM menyambut mereka dengan tepuk tangan meriah ketika kembali dari Solo. “Meski kami kalah, tetapi mereka tetap mendukung dan memberikan sambutan positif pada kami,” tutur gelandang serang PSIM.

Pengalaman berbeda dituturkan Kristian Adelmund. Gelandang jangkung ini mengaku tak pernah menyangka dirinya dianggap bak pemain bintang oleh para suporter.

Pasalnya, dibanding kedua rekan senegaranya, Adelmund memang terbilang paling laris diburu para suporter untuk berfoto bersama, meminta tanda tangan, atau sekadar berjabat tangan. “Kalau di Belanda, saya malah tidak pernah diperlakukan seperti itu, di sini saya serasa seorang pemain bintang besar,” candanya.

Meski demikian, Adelmund tak pernah berkeberatan menanggapi permintaan para suporter. Ia juga selalu menebar senyum para suporter memanggil dan mengelu-elukan namanya. “Saya tak merasa repot dan keberatan, lagipula mereka selalu mendukung kami, jadi bisa dikatakan ini sebagai rasa terima kasih,” kata Adelmund.

Adapun bomber andalan, Emile Llinkers, mengaku senang bisa mengasah skill dan bermain bersama para punggawa PSIM. Menurutnya, hal teristimewa dari PSIM adalah semangat kekeluargaan dari masing-masing pemain. “Di sini semua pemain menyatu, kompak seperti keluarga, itu yang membuat saya merasa nyaman,” ujar pemain bernomor punggung 99.

Kini, setelah musim kompetisi berakhir, ketiganya pun telah kembali ke Negeri Tulip, Belanda. Meski memiliki pengalaman yang beragam dan berbeda, namun ketiganya serempak mengucapkan satu kata yang sama. “Thank you Yogya,” ujar mereka kompak.

Sumber : Lihat Disini

Hanafing Sarankan Manajemen Tambah Gelandang dan Penyerang

YOGYA - Musim kompetisi 2012/ 2013 memang masih jauh. Namun pelatih PSIM, Hanafing, mengatakan tak ada salahnya jika manajemen tim mulai memikirkan pembentukan tim sejak jauh-jauh hari.

Menurutnya, guna keperluan pembentukan tim berencana ingin melakukan sejumlah perbaikan. Terutama untuk kualitas lini depan dan lini tengah.

Hal itu karena selama ini PSIM hanya memiliki seorang striker yang berkualitas, yaitu Emile Linkers. Sementara pemain pelapis lainnya seperti Johan Arga, M.Rifky, Lakman Selan dan Wisnu Raharjo masih membutuhkan banyak perbaikan dan pengalaman.

"Kualitas pemain inti dengan pelapis selama ini kan terbilang belum terlalu sepadan, jadi tak ada salahnya mulai berpikir untuk mendatangkan pemain yang memang berkualitas," terangnya saat dihubungi, Jumat (27/7/2012).

Sementara di sektor gelandang, ia membutuhkan sosok gelandang bertahan yang diproyeksikan melapis Kristian Adelmund. Ia menilai, selama ini dirinya selalu kerepotan saat Adelmund tak bisa dimainkan lantaran belum ada sosok yang sepadan dengan gelandang jangkung tersebut.

”Selama ini, kalau Kristian (Adelmund) cedera, kami sama sekali tak memiliki pelapis,” ucapnya.

Namun pendapat berbeda diutarakan Direktur Teknik PSIM, Dwi Irianto. Ia menilai materi pemain yang dimiliki PSIM sebenarnya telah sangat maksimal dan potensial.

Kegagalan memenuhi misi menembus Indonesia Super League (ISL) dinilai bukan karena masalah kualitas pemain. Tetapi alasan konflik internal yang carut-marut saat kompetisi bergulir musim lalu.

”Tapi nyatanya kan kami masih bisa sampai di pertandingan terakhir, artinya sebenarnya kami masih mampu berbuat lebih,” tandasnya.

Ia pun berharap, program latihan untuk pembentukan tim musim depan juga lebih diperbaiki. Hal itu dinilai lebih realistis mengingat kondisi finansial tim yang tak berlebih.

”Sekarang hanya persoalan program latihannya saja, materi tim saya kira tak terlalu ada masalah," papar pria yang akrab disapa Mbah Putih.

Sumber : Lihat Disini

Kamis, 26 Juli 2012

Kapten PSIM: Yang Penting Bayar Gaji Kami

JOGJA—Pernyataan manajemen PSIM yang mengaku tak gentar menghadapi tuntutan pemain terkait  rencana rasionalisasi gaji dengan alasan status PT PSIM yang tak jelas, sangat disayangkan sejumlah pemain PSIM.

Pasalnya, sesuai dengan kesepakatan yang pernah dibahas pihak manajemen, pemain dan Ketua Umum PSIM Haryadi Suyuti saat pembagian bonus 30 Mei lalu, hanya bonus saja yang akan dirasionalisasi.

”Saat itu tidak ada kesepakatan tentang rasionalisasi gaji,” tegas Nova Zaenal, kapten PSIM saat dihubungi, Rabu (25/7).

Tak hanya itu, ia juga menyayangkan manajemen yang menggunakan alasan ketidakjelasan legalitas PT PSIM untuk menyangkal tuntutan pemain tersebut.

Menurutnya, ketika kesepakatan yang diambil pihaknya dengan manajemen dan Haryadi Suyuti selaku Ketua Umum, disepakati bagaimanapun keadaan PSIM, manajemen tetap akan bertanggung jawab terhadap tunggakan sisa gaji pemain.

”Kami tidak peduli dengan status PSIM atau apapun. Buat kami yang terpenting, tolong bayar gaji kami sesuai kesepakatan,” ujarnya.

Menurutnya, tak ada alasan bagi manajemen untuk mengatasnamakan ketidakjelasan status legalitas PT tersebut. Pasalnya, jika memang status PT tersebut tak jelas, seharusnya, PSIM tidak bisa mengikuti kompetisi yang memang menyaratkan sebuah klub memiliki badan hukum.

Untuk itu, ia dan pemain lainnya menggagas untuk melakukan pertemuan secepatnya dengan pihak manajemen. ”Tujuannya hanya satu, menagih janji yang telah disepakati sebelumnya. Itu saja,” tegasnya.

Sebelumnya, Direktur Teknis PSIM, Dwi Irianto memang mengatakan tuntutan pemain tersebut hanya menjadi sebuah keniscayaan belaka. Pasalnya, hingga kini, legalitas PT PSIM sendiri belum jelas.

Masing-masing manajemen pada kenyataannya tidak memegang bukti legalitas tersebut. ”Jadi mengacunya dari mana,” ucapnya.

Begitu pula dengan Ajiek Tarmidzi, Media Officer PSIM yang hanya bisa menjelaskan, legalisasi PT tersebut memang terkesan sangat terburu-buru. ”Karena kami mengejar deadline pengajuan syarat peserta kompetisi,” ujarnya.

Selain itu, ia pun mengaku hingga kini dirinya pun belum menerima salinan surat apapun terkait dengan status PT PSIM tersebut. ”Saya sendiri, sampai sekarang pun belum terima apapun terkait surat legalisasi itu,” ujarnya.

Sumber : Lihat Disini

Tanggungan PSIM Capai Rp600 Juta Lebih

JOGJA—Dari hasil rapat antara manajemen dengan Ketua Umum PSIM beberapa hari lalu, diputuskan pemberlakukan cash off (pembayaran mundur) atas utang PSIM yang tidak masuk prioritas manajemen.

Beberapa tunggakan yang masuk dalam cash off tersebut antara lain sisa gaji pemain, perangkat tim, dan ofisial yang berkisar antara 2-4 bulan, tunggakan sewa stadion Mandala Krida sebesar lebih dari Rp50 juta dan pembayaran catering wisma pemain. ”Total semua senilai Rp600 juta lebih,” tegas Direktur Pemasaran PSIM Iriantoko Cahyo Dumadi Senin (23/7).

Sesuai dengan kontrak pemain, pihak PSIM memiliki kewajiban membayar gaji kepada para pemainnya sepanjang waktu kontrak, dalam hal ini hingga Oktober 2012. ”Jadi jika dihitung semuanya, total tunggakan gaji pemain adalah selama tujuh bulan,” tuturnya.

Penentuan cash off tersebut didasarkan kepada mendesak tidaknya kebutuhan pelunasan hutang tersebut. Menurutnya, di luar cash off tersebut, pihaknya masih memiliki tunggakan lain yang dinilainya cukup mendesak untuk segera diselesaikan.  ”Contohnya saja bonus pemain, yang sudah kami selesaikan dulu,” ujarnya.

Sementara saat ditanya mengenai penyelesaian dari utang cash off tersebut, ia mengaku masih membahasnya dengan para pengurus PSIM yang lain. ”Kami masih terus berusaha membahasnya dan memperjuangkannya,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Umum PSIM Haryadi Suyuti, pernah menjanjikan, sebelum digelar kompetisi 2012/2013, pihaknya akan menyelesaikan tunggakan Stadion Mandala Krida yang mencapai lebih dari Rp50 juta.

”Untuk itu, kami sudah bertemu dengan pihak Balai Pemuda dan Olahraga [BPO] DIY untuk membahas penyelesaian tunggakan itu,” paparnya.

Sumber : Lihat Disini