Minggu, 08 April 2012

PSIM Berhutang Rp 40 Juta

YOGYA - Pihak manajemen PSIM Yogya ternyata memiliki tanggungan hutang cukup besar terhadap penggunaan Stadion Mandala Krida. Hutang tersebut mencapai Rp 40 juta yang hingga sekarang belum dibayar manajemen Parang Biru.

"Kurang lebih kalau dihitung-hitung memang ya sekirat Rp 40 juta," terang manajer sarana dan prasarana PSIM, Jarot Kastawan, Sabtu (7/4/2012).

Ia pun tak bisa memastikan kapan pihak manajemen akan melunasi tunggakan tersebut. Menurutnya, hal tersebut akan dibahas dan disampaikan pada para petinggi PSIM lainnya untuk mencari solusi penyelesaian.

Sumber : Lihat Disini

Jumat, 06 April 2012

PSIM Agendakan Uji Coba Lawan Tunas Jogja

YOGYA - PSIM mengagendakan laga uji coba sebelum menjamu Persip Pekalongan, Kamis (12/4/2012). Nova Zaenal cs dijadwalkan melawan tim Tunas Jogja, Minggu (8/4/2012) di Stadion Mandala Krida.

Pelatih PSIM, Hanafing, mengatakan uji coba tersebut ditujukan untuk menjaga kekompakan sekaligus sentuhan bola para punggawa Laskar Mataram. Meski hanya melawan tim lokal, ia berharap anak asuhnya tetap bermain serius dengan menonjolkan teknik permainan.

"Hasil tak jadi tujuan utama, yang penting bagaimana anak-anak menerapkan teknik dan pola permainan yang benar," terang pelatih berlisensi A AFC tersebut.

Sumber : Lihat Disini

Linkers Absen Lawan Persip

YOGYA - Striker asing PSIM, Emile Linkers, dipastikan absen saat PSIM menjamu Persip Pekalongan, Rabu (12/4/2012) mendatang. Bomber asal Belanda tersebut harus menjalani akumulasi kartu dan membuatnya absen satu laga.

Praktis, tim pelatih harus menyiapkan alternatif untuk mengisi posisi Linkers. Dua nama bomber lokal, Reinhard Rumaikewi dan Lakman Selan, disiapkan sang pelatih, Hanafing, untuk laga kandang tersebut.

"Tak ada pilihan lain kecuali memainkan mereka berdua, Linkers memang harus absen di laga minggu depan," terang Hanafing, Jumat (6/4/2012) siang.

Sumber : Lihat Disini

Kamis, 05 April 2012

Hanafing Kritik Linkers


JOGJA—Penampilan kurang maksimal striker PSIM Emile Linkers di dua laga tandang terakhir membuat pelatih PSIM, Hanafing naik darah. Pelatih berlisensi A AFC itu melihat pemain bernomor punggung 99 itu mulai memperlihatkan permainan yang tidak konsisten dan cenderung
manja.

“Dia enggak mau gerak dan malas-malasan. Jika dia tetap tampil seperti di Kudus dan Solo, mungkin akan saya cadangkan saat melawan Persitema, Senin (16/4) nantinya di kandang. Besok dia [Linkers] absen, dan enggak bias diturunkan saat melawan Persip Pekalongan di kandang, Kamis (12/4) mendatang,” kata Hanafing, seusai laga melawan Persis Solo, Rabu (4/4) sore.

Di laga melawan Laskar Samber Nyawa di Stadion Manahan Solo, kemarin sore, penampilan pemain asal Belanda ini kurang begitu terlihat. Dia dinilai Hanafing kurang mampu memerankan posisinya sebagai striker tunggal, saat menerapkan pola 4-2-3-1 di 45 menit babak pertama.

Keengganan mengejar dan menjemput umpan dari Nova Zaenal, Lorenzo Rimkus dan M Irfan yang berada di lini tengah, membuat PSIM hanya mampu menghasilkan dua kali kesempatan untuk mencetak gol. Tak hanya itu, Linkers yang dipasang sebagai striker tunggal juga kurang membantu pertahanan Laskar Mataram sebagai satu-satunya pemain yang berada di depan.

“Dia kurang maksimal dalam membantu bertahan. Harusnya dia bisa memaksimalkan perannya sebagai penyerang dan membantu pertahanan. Ini dia enggak mau gerak,” tandasnya.

Akibat penampilan yang kurang maksimal itu, eks pelatih PSIS Semarang dan PSM Makassar itu pun mengaku mengubah pola permainan anak asuhnya. Nova Zaenal yang tidak maksimal memerankan posisi gelandang serang ditarik dan digantikan Reinhard, sedangkan M Romlih yang diposisikan sebagai wing back kiri digantikan Topas Pamungkas.

“Babak kedua, saya gunakan 4-4-2. Ini saya lakukan karena Linkers sudah tidak bisa diandalkan sebagai striker tunggal, saya masukkan Reinhard. Tapi dia malah dapat kartu, ya saya tarik saja, dan memasukkan Lakman Salan,” terang eks pemain Niac Mitra itu.

Di laga melawan Persip Pekalongan di Stadion Mandala Krida, Jogja, Kamis (12/4) mendatang, eks penggawa Timnas itu pun mengungkapkan tetap akan memaksimalkan duet Reinhard dan Lakman. Dua striker lokal itu dirasa cukup mampu membantu penyerangan PSIM saat melawan Persis Solo. “Apalagi, Linkers kan absen. Saya akan maksimalkan keduanya. Saya lihat keduanya juga cukup lumayan tadi,” pungkasnya.

Sumber : Lihat Disini

AKSI TEROR PASOEPATI: PSIM Akan Lapor ke BLI, Persis Terancam Sanksi

SOLO--Aksi ‘penyerbuan’ ratusan Pasoepati terhadap para pemain PSIM Jogja di Stadion Manahan, Selasa (3/4/2012) sore berbuntut panjang. PSIM yang merasa dirugikan atas kejadian itu bakal melaporkan ke Badan Liga Indonesia (BLI). Akibatnya, tim Persis Solo terancam terkena sanksi berat dari BLI dalam waktu dekat.

Persis dan PSIM terlibat duel derby Mataram putaran kedua Divisi Utama PT Liga Indonesia (DU PTLI) di Stadion Manahan, Rabu (4/4/2012) sore. Dalam pertandingan yang berakhir 0-0 itu, tim PSIM belum dapat melupakan aksi teror yang dilakukan ratusan Pasoepati sehari sebelumnnya. Meski tak sampai mengganggu konsentrasi pemain, kejadian tersebut disayangkan PSIM. Laga yang dimulai pukul 15.20 WIB itu tanpa kehadiran suporter kedua tim.

“Kejadian seperti kemarin yang harus diubah. Mestinya, para suporter dapat membedakan antara tim dan suporter. Kami tak mengetahui kalau hubungan Pasoepati dengan Brajamusti seperti itu (bermusuhan-red). Secara mekanisme, tentunya kejadian ini harus kami laporkan ke BLI. Seperti di luar negeri, kalau ada tindakan di luar prosedur harus ada sanksi berat,” kata pelatih PSIM Jogja, Hanafing saat jumpa pers seusai pertandingan.

Hanafing menjelaskan permasalahan yang dihadapai suporter tak perlu dibawa ke tengah lapangan. Terlebih, persoalan tersebut menjadi cerita lama yang dimiliki Pasoepati dengan Brajamusti.

“Kami telah mendapatkan tekanan dari suporter dua kali. Pertama di Kudus, saat salah satu pemain kami (Topas) terkena ketapel di tengah lapangan. Official tak diperbolehkan memberi instruksi ke pemain. Kemudian, kejadian kemarin (aksi teror Pasoepati -red). Untungnya saat bermain, para pemain tetap konsentrasi dan tak berimbas ke psikologi mereka,” katanya. Sementara itu, Ketua Panpel pertandingan, Paulus Haryoto menganggap terjadinya aksi teror ratusan Pasoepati terhadap pemain PSIM Jogja di Stadion Manahan, Selasa (3/4/2012) sore bukan kesalahan panitia. Sebaliknya, dirinya mengajak kalangan suporter untuk saling menghormati aktivitas setiap pemain, terutama saat di dalam stadion.

“Bukan Panpel yang salah. Para suporter harus bersikap dewasa dalam kondisi itu. Kami tak menyalahkan mereka atau pihak lain. Tapi, marilah kita bersama-sama bersikap dewasa,” katanya saat dihubungi Solopos.com, Rabu (4/4/2012).

Paulus menjelaskan jadwal pemain PSIM menjajal lapangan di Stadion Manahan memang diagendakan, Selasa sore. Pagi harinya, tim Persis yang memperoleh jatah menjajal lapangan. Hanya, saat pemain PSIM menjajal lapangan di stadion, Panpel tak tahu-menahu keberadaan Pasoepati yang sedang syuting film.

“Kami tak tahu kalau di stadion ada juga Pasoepati. Padahal, kami juga sudah koordinasi dengan petugas Manahan, dibuktikan dengan minta izin penggunaan lapangan (termasuk ke kepolisian). Memang, mestinya H-1 pertandingan, kondisi lapangan harus steril,” katanya.

Paulus mengharapkan seluruh pihak, terutama suporter tetap menjaga kondusuvitas di kompleks Stadion Manahan. Dirinya berjanji kejadian teror yang dilakukan suporter hingga merangsek ke dalam lapangan tak akan terjadi lagi di Kota Bengawan di masa mendatang.

“Ini menjadi pembelanjaran kita semua. Tentunya, kami berharap kejadian seperti itu tak terulang lagi. Saat kejadian, kami langsung sigap dengan mengontak aparat kepolisian dan petugas keamanan. Hasilnya, para pemain dapat dievakuasi dengan truk dalmas sore hari,” ujarnya.

Disinggung tentang ancaman laporan kubu PSIM terkait aksi teror Pasoepati, Paulus tak terlalu mengkhawatirkannya. Pasalnya, sebagai Panpel dirinya merasa sudah menjalankan prosedur pertandingan.

“Kemarin kan suporter yang berbuat. Kami tak perlu menanggapi ancaman laporan PSIM ke Badan Liga Indonesia (BLI),” terang Paulus.

Sumber : Lihat Disini

Hanafing Bersyukur PSIM Dapat Satu Poin

SOLO - Tim PSIM Yogyakarta berhasil mencuri satu poin setelah menahan imbang tuan rumah Persis Solo pada laga lanjutan Divisi Utama Badan Liga Indonesia (BLI). Sempat dihantui teror oleh suporter Persis Solo sehari sebelum kick off, Laskar Mataram sukses membuat skor 0-0 bertahan hingga akhir pertandingan.

“Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan satu poin di Solo. Padahal para pemain masih mengalami tekanan psikologis setelah insiden teror suporter saat uji coba lapangan lalu,” kata Hanafing, pelatih PSIM Yogyakarta seusai pertandingan, Rabu (4/4/2012), sore. Tambahan satu poin itu membuat PSIM masih bertahan di papan atas klasemen sementara Liga Indonesia.

Menurut Hanafing, kekuatan Persis yang ia hadapi kemarin jauh berbeda dibanding saat pertemuan dilaga putaran pertama. Persis yang saat ini banyak dihuni pemain muda berhasil menakan timnya dan menciptakan sejumlah peluang sepanjang pertandingan.

“Persis telah banyak progress dengan pemian barunya, kita sempat dibuat kerepotan. Mereka akan sangat berbahaya jika punya striker bagus,” ujarnya memuji tim lawan.

Sumber : Lihat Disini

PSIM Sukses Curi Poin di Solo

SOLO - PSIM Yogyakarta sukses mencuri poin saat bertandang ke markas Persis Solo, Rabu (4/4/2012). Kedua tim bermain imbang tanpa gol sepanjang 90 menit pertandingan.

Sejak awal, kedua kesebelasan memeragakan permainan terbuka dan saling jual beli serangan. Sejumlah peluang pun sukses dihasilkan dua kubu yang berambisi untuk saling mengalahkan.

Meski berstatus sebagai tim tamu, PSIM mampu membendung gempuran Persis dan meladeni serangan tim tuan rumah. Namun tak satupun gol tercipta di laga yang bertajuk Derby Mataram ini.

Dengan hasil ini PSIM sukses sedikit menjauh dari kejaran Persebaya yang berada di urutan kedua. PSIM tetap kokoh di puncak klasemen grup Barat dengan torehan 25 poin, unggul 3 poin dari tim Bajul Ijo.

Sumber : Lihat Disini